Sutan Anwar dilahirkan di Sumatera Barat pada tanggal 21 Maret 1914. Beliau adalah salah seorang pemain sepakbola yang pernah membawa Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) di Piala Dunia 1938. Karir beliau dikenal sebagai pemain VIOS Batavia. Capaian ini tercatat oleh FIFA, Anda bisa lihat ketercatat-an Sutan Anwar ini di website FIFA di halaman: http://www.fifa.com/fifa-tournaments/players-coaches/people=45695/index.html
Perhelatan piala dunia yang digelar di Perancis tersebut pernah menjadi ajang unjuk gigi Indonesia di kancah sepakbola Internasional. Tercatat dalam sebuah koran Perancis L’Equipe, terbit 6 Juni 1938 bahwasanya:
Gaya menggiring bola pemain depan tim Hindia Belanda, sangat brilian, tapi pertahanannya amburadul karena tidak ada penjagaan ketat.
Meskipun harus menelan kekalahan 4-0 dan dengan hasil akhir 6-0 dari tim Hungaria (Saat itu tim Hungaria dikenal sebagai tim yang kuat, bahkan dua pemain Hungaria Gyorgy Sarosi, Gyula Zsengeller tercatat sebagai 3 besar pencetak gol terbanyak).
Sistem kompetisi piala Dunia saat itu menggunakan sistem gugur. Alhasil, kekalahan pertama tersebut mengagalkan tim Indonesia ke putaran berikutnya.
Tidak ditemukan catatan yang begitu jelas tentang jalannya pertandingan yang diadakan di Stadion Reims, 5 Juni 1938 Prancis ini. Demikian juga prosesi keberangkatan tim Indonesia. Sebagian versi cerita menyatakan bahwasanya tim ini adalah utusan NIVU (federasi sepakbila di bawah Hindia-Belanda) dan tanpa restunya PSSI yang nota-bene nya baru berusia 8 tahun.
Pada versi lain, dikatakan; kehadiran timnas Indonesia saat itu sebagai pengganti Jepang yang menolak untuk mengikuti piala Dunia saat itu.
Tercatat pula, bahwasanya sang Kapten tim Indonesia saat itu bernama Ahmad Nawir. Profesi beliau adalah seorang dokter. Beliau menggunakan kacamata ketika bertanding, ungkap wartawan Times yang meliput pertandingan tersebut.
![]() |
| Ahmad Nawir |
Pertandingan ini diadakan pada pukul 17.00 Waktu setempat. Stadion Velodorme (sekarang stadion Auguste Delaune), kota Reims menjadi saksi partisipasi Indonesia di perhelatan Piala Dunia. Wasit asal Prancis; Rogen Conrie menjadi penengah lapangan. Carl Weingartner dan Charles Delasalle sebagai hakim garis.
Pertandingan yang ditonton langsung sekitar 9000 pasang mata ini diikuti pemain Indonesia dengan seragam Kaos Orange-Celana Pendek Putih- Kaos Kaki biru Muda. Di sisi lain tim Hungaria, menggunakan kit serba putih.
![]() |
| Kostum Hindia-Belanda |
Seorang pemain depan Hungaria, Sarosi menyebutkan bahwasanya ada beberapa pemain Hindia Belanda yang bermain bagus; Sutan Anwar, Hans Taihittu, Tjaak pattiwael, Suwarte Soedarmadji.
Perjalanan Timnas Indonesia ke Perancis dimulai tanggal 27 April 1938 dengan kapal laut dari Pelabuhan Tanjung Priok. Berikutnya berlabuh di Genoa (Italia), perjalanan ke Perancis dilanjutkan dengan kereta api. Kutipan dari Surat Kabar Java Bode.
![]() |
| Foto di Genoa |
Berikut skuad lengkap pemain Indonesia di Piala Dunia 1938
- Kiper: Tan "Bing" Mo Heng (HCTNH Malang), Jack Samuels (Hercules Batavia)
- Belakang: Dorst, J. Harting Houdt Braaf Stand (HBS Soerabaja), Frans G. Hu Kon (Sparta Bandung), Teilherber (Djocoja Djogjakarta)
- Tengah: G.H.V.L. Faulhaber (Djocoja Djogjakarta), Frans Alfred Meeng (SVBB Batavia), Achmad Nawir (HBS Soerabaja), Anwar Sutan (VIOS Batavia), G. van den Burgh (SVV Semarang)
- Depan: Tan Hong Djien (Tiong Hoa Soerabaja), Tan See Han (HBS Soerabaja), Isaac "Tjaak" Pattiwael (VV Jong Ambon Tjimahi), Suvarte Soedarmadji (HBS Soerabaja), M.J. Hans Taihuttu Voetbal Vereniging (VV Jong Ambon Tjimahi), R. Telwe (HBS Soerabaja), Herman Zomers (Hercules Batavia)
- Pelatih: Johannes Mastenbroek (Belanda)
Selesai ditaklukkan Hungaria, timnas Indonesia sempat menjalani laga persahabatan dengan timnas Belanda tanggal 26 Juni 1938, di stadion Olimpiade, Amsterdam. Barulah tanggal 1 Juli mereka kembali ke Indonesia dengan menggunakan jalur laut.
Setelah itu, sebagian mereka tidak diketahui kelanjutan karirnya. Sempat dilaaporkan hanya kiper Mo Heng Tan yang bermain lagi tahun 1951 melawan klun Singapura 1951. Sementara itu, Frans Alfred Meeng, dilaporkan Java Post tenggelam dengan kapal Junyo Maru diperairan Sumatera setelah bentrok dengan kapal perang Inggris.




You must be logged in to post a comment.