Tahukah kamu salah satu penyakit zoonosis yang paling mematikan di dunia?
Rabies adalah salah satunya!
Rabies masih menjadi penyakit yang sangat menyeramkan karena peluang bertahan hidup sangat rendah ketika gejalanya muncul. Virus ini akan menyerang sistem saraf dan menggunakan glikoprotein G sebagai alat untuk menempel ke sel-sel tubuh. Protein inilah yang kemudian dijadikan target utama dalam pengembangan berbagai jenis vaksin, termasuk vaksin yang dirancang secara komputasional (in silico).
Vaksin rabies konvensional memang sudah cukup efektif, namun penggunaannya di lapangan tidak selalu mudah. Biayanya tinggi, butuh penyimpanan bersuhu rendah, dan harus diberikan melalui suntikan, yang tentunya menjadi sebuah tantangan besar bagi wilayah endemik dengan fasilitas kesehatan terbatas. Karena itu, konsep edible vaccine, yaitu vaksin yang diproduksi langsung dalam tanaman yang bisa dimakan, muncul sebagai alternatif menjanjikan. Tanaman seperti tomat, pisang, kentang, dan selada telah terbukti mampu mengekspresikan antigen dan memicu respons imun setelah dikonsumsi.
Dari berbagai kandidat tanaman, tomat menjadi pilihan ideal untuk edible vaccine karena tumbuh cepat, mudah direkayasa, dan buahnya bisa dimakan langsung tanpa proses rumit. Ini artinya, jika antigen berhasil diproduksi di dalam buah, vaksin bisa dikonsumsi hanya dengan memakan tomat dan sekaligus menjadi sebuah solusi yang jauh lebih murah, tidak membutuhkan jarum suntik, dan tidak perlu penyimpanan dingin. Bayangkan vaksin rabies yang bisa ditanam, dipanen, lalu dimakan; konsep ini bisa jadi terobosan besar terutama di daerah terpencil atau negara berkembang tempat vaksin konvensional sulit disimpan dan mahal distribusinya.
Dengan penggabungan bioinformatika dan bioteknologi tanaman, edible vaccine tomat berpotensi menjadi bentuk baru vaksin masa depan: lebih murah, lebih ramah lingkungan, dan jauh lebih mudah diakses. Langkah berikutnya setelah tahap desain komputasi ini adalah membuat gen sintetiknya, memasukkannya ke dalam tanaman tomat, lalu menguji apakah antigen yang dihasilkan benar-benar stabil dan mampu memicu respon imun. Jika tahap-tahap ini berhasil, konsep vaksin yang “tumbuh di kebun” bukan lagi sekadar ide futuristik, tetapi solusi nyata yang dapat membantu mengurangi angka kematian rabies secara global.
Namun, masih banyak tantangan dalam pengembangan edible vaccine, mulai dari perbedaan ekspresi antigen antar tanaman, degradasi protein saat pencernaan, hingga kestabilan antigen yang belum optimal. Pendekatan in silico melalui bioinformatika menjadi penting sebagai langkah awal. Dengan bantuan perangkat seperti ClustalX, BioEdit, MEGA, IEDB, dan JCat, para peneliti dapat menyelaraskan sekuens G-protein, memprediksi epitope imunogenik, dan mengoptimasi kodon agar cocok diekspresikan di tomat, bahkan sebelum masuk ke laboratorium.
Oleh Mahasiswa Biologi UPI 2024: Nayla Anggun Rafita, Nisa Nur Fatmawati, Hakika Syauqiya Imani, Marcia Salma Putri, Hasna Hilyatul Aulia, Radita Iswara Pramudita

You must be logged in to post a comment.