Aden urang Minang, Gadang makan Randang. Rendang di dunia internasional menyebutnya, salah satu makanan yang sudah populer sebagai karakter khusus dari Minangkabau. Usut punya cerita ternyata di Malaysia, juga ada rendang. Tetapi rendang mereka hampir sama dengan Kalio atau rendang masih belum terlalu matang.
![]() |
| Tuhan, Bukalah mata orang yang mengatakan kalau gambar ini rendang |
Biasanya pada rendang akan lebih enak jika ditambahkan kentang berukuran kecil. Bisa juga ditambahkan ubi yang dicincang sebagai ‘kinco’ rendang. Rendang ala Minangkabau hitam dan kering. Mungkin jika pergi ke Rumah Makan Padang agak jarang yang ditemui ‘nan sabana randang’. Umumnya rendang yang dijual di Rumah Makan Padang di luar negeri (di luar Minangkabau) masih basah dan bewarna coklat.
Untuk membuat rendang ini dulu bisa dibuat dalam waktu seharian. Bukan perkara mudah, dari mencampur bahan hingga memasak dengan ‘ma unyai’ di atas api yang tidak terlalu besar. Dari pembuatan rendang yang lama tersebut, sampai menghitam maka akan diperoleh rendang yang kualitasnya super alias tahan lama. Dari proses pembuatan tersebut menunjukkan bagaimana kepribadian seorang Minangkabau sejati.
Sabar berusaha danTelaten Bialah Saba dulu untuak nan pasti
Jelas dari bagaimana proses rendang dibuat dari proses awal mencampurkan berbagai bumbu seperti bawang segala bawang kecuali bawang perai (daun bawang kata orang Indonesia). Cabe, memeras santan, hingga memasak ditungku sampai rendang mengering.
Dalam keteatenan juga terlihat dari pemotongan daging yang tak sembarangan. Jika terlalu tebal maka tidak akan menyerap bumbu, jika terlalu kecil maka daging akan hancur.
Selanjutnya dari mengaduk. Rendang dimasak dengan mengaduk-aduk perlahan secara periodik. Nyala api tidak boleh terlalu besar. Di sini kesabaran akan diuji. Rendang tidak bisa dimasak dengan instan seperti Supermi (kata orang orang seisuk).
Semua dilakukan dengan telaten dan sabar. Tujuannya pasti membuat rendang. Tanpa dua sikap tersebut maka tiada rendang. Begitu juga dengan kehidupan tanpa dua hal tersebut, jangan berharap apa-apa dari sebuah usaha.
Bersatu dan Pandai Menimbang Rasa
Kesatuan banyak bumbu tersebut akan menjadi satu rasa. Seperti itulah orang Minang, bersatu. Ibarat pepatah orang tua, bersatu kita teguh bercerai jangan lupa minta surat kuning.
Kemudian dalam menakar bumbu rendang. Semua dihayati dengan perasaan. Lihat saja jika amak amak memasak rendang. Tidak ada takaran bawang merah 2 siung, bawang putih 4 siung, cabe giling 2 sendok nasi. Tak ada. Semua dilakukan dengan perasaan.
Berhemat
Jika rendang telah jadi, maka rendang yang dibuat tersebut akan disimpan. Karena tahan lama bahkan sampai sebulan. Selama itu maka makanan kita pasti rendang.
Itulah rendang, mengajarkan untuk berhemat. Selama masih ada rendang tersebut habiskan dulu. Tapi apa kita bosan dengan rendang itu? Tidak sama sekali. Istilahnya berhematlah, pakai yang ada itu dulu. Itulah hal-hal yang diajarkan pada kehidupan ketika membuat rendang. (tulisan kiriman Erza Putri Pandano)


You must be logged in to post a comment.