Perputaran waktu memaksa setiap insan untuk berubah, baik itu menginginkan perubahan itu sendiri atau bahkan tak pernah menginginkan perubahan itu sendiri. Sakali aia gadang, sakali tapian barubah.
Namun tetap ada nilai nilai yang harus diusahakan tidak tergerus waktu. Adat, budaya, tradisi selalu berusaha menerobos dicelah celah globalisasi. Modernisasi telah membuat sekat-sekat khusus dalam berkehidupan.
Ada sisi sisi baik yang kadang harus mengalah dengan perkembangan, walaupun juga tak dinafikkan ada sisi baik dari perkembangan itu sendiri. Standar norma mulai bergeser. Adat istiadat sekeras apapun tetap harus mengalah pada waktunya.
Demikian pula yang mengegorogoti tatanan adat dan budaya Minangkabau. Bila ditelusuri dari jaman terdekat saat penjajajahan atau beberapa dekade silam. Kebanggaan terbesar tentang rumah gadang. Fungsi rumah gadang sebagai tempat tinggal kaum saparuik.
Melompat sedikit mengenai peran Surau, tempat belajar, tidur para kaum muda lelaki. Tapi apalah daya sekarang, tak sama lagi seperti dulu. Surau hanya tempat azan dan shalat berjamaah pada waktu shalat telah datang. Lebih dari itu, selepas Isya surau sudah dikunci.
Hal yang juga tak kalah jauh berubahnya, dahulu seorang mamak begitu bangga dengan kemenakan yang sukses dan baik. Lebih akrab pertanyaan, “ Kamanakan siapo ang?” Bandingkan dengan sekarang, lebih sering akan didengar “ Anak sia Ang?”
Lebih dalam kita telusuri, sebut dalam pernikahan dan pra-pernikahan anak perempuan. Sudah jauh tak begitu berfungsi peran mamak. Peran bapak mendominasi, Wallahualam, silakan koreksi jika ini salah.
Begitulah, mau tidak mau perubahan akan mengikuti waktu, mau tidak mau harus diikuti.
Ke depan, apalagi yang akan berubah di negeri Minang ini. Adakah kembali menuju kejayaan M Hatta, Sutan Syahrir, Agus Salim. Atau hanya menjadi penikmat modernisasi. Muda mudi tiktok yang, pegurau facebook tanpa kualitas konten. Semoga terjauhkanlah dari hal sedemikian.
Zaman batuka, musim baganti. Apa boleh buat bagi kita lagi, dima tumbuah sinan di-siangi, nan kaji lamo di ulang juo, nan jan samak bana jalan nan dipasah

You must be logged in to post a comment.