Pariaman atau dikenal dengan sebutan Piaman Laweh (Pariaman Luas) dikenal sebagai salah satu Wilayah Bagian di Sumatera Barat. Kota ini dikenal ciri khas logat berbahasa penduduknya dan sangat banyak orang daerah ini bertebaran merantau di dunia.
Menilik ke masa lalu, Pariaman telah dikenal oleh para pedagang asing sejak tahun 1500-an. Menurut salah satu catatan lama yang ditemukan oleh Tomec Pires, seorang Portugis, dinyatakan bahwasanya telah ada jalur perdagangan antara India, Tiku, Barus dan Pariaman.
Tertulis, setidaknya dalam setahun ada minimal 3 kapal gujarat yang berdagang dengan penduduk asli sana. Barang yang diperdagangkan antara lain emas, kapur barus, madu , lilin. Disebutkan juga telah ada perdagangan ternak kuda yang dibawa ke daerah Sunda dan Batak.
Sekitar tahun 1527, Jean Ango seorang berkebangsaan Perancis juga mengutus 2 kapal dagang ke daerah Pariaman. Ango mengutus Jean dan Raoul Parmentier untuk berbisnis di sana. Namun, karena banyak awak kapal yang sakit dan meninggal tidak banyak bukti ditemukan dari peninggalan mereka
21 November 1600, Paulus Cardeen dinyakatakan pernah melewati daerah perairan Pariaman. Demikian juga, Cornelis De Houtman juga pernah singgah di Pariaman sebelum sampai di Sunda Kelapa (jakarta).
Kemudian menurut W Marsden, orang Pariaman (dalam catatannya tertulis Pryaman), mulai menjalin hubungan dengan Inggris.
Memang tidak, bisa dipungkiri. Pariaman merupakan salah satu pintu masuk para orang luar. Ini disebabkan letak geografisnya yang berada di tepi pantai. Bahkan salah satu sumber sejarah menyatakan Pariaman memiliki pelabuhan perdagangan terbesar kala itu.
Namun, perkembangan jaman dan moda transportasi maka peran pelabuhan Pariaman mulai meredup. Apalagi telah dibangunnya jalur transportasi seperti kereta api. Belanda mulai bisa lebih leluasa memasuki Pariaman dari kota Padang.

You must be logged in to post a comment.