Kontribusi harimau nan salapan juga dikenal luas di daearah Tapanuli Selatan. Masyarakat di sana sebelumnya masih memiliki kepercayaaan animisme dan akhirnya berhasil di islamkan oleh Pongkinangolan Sinambela ( tuanku Rao), Hamonangan Harahap (tuanku Tambusai), Mansur Marpaung (Tuanku Asahan), Jatenggar Siregar (tuanku Ali Sakti). Mereka disebutkan pernah berguru pada Tuanku nan Renceh di Kamang, Agam.
Adapun Tuanku nan Renceh merupakan salah satu dari Harimau nan Salapan. Harimau nan Salapan ini adalah sebutan untuk beberapa orang saat itu yang terdiri dari :
- tuanku Nan Renceh,
- tuanku Kubu Sanang,
- tuanku Ladang Laweh,
- tuanku Padang Lua,
- tuanku Galuang,
- tuanku Koto Ambalau,
- tuanku Pamansingan
- tuanku Haji Miskin.
Gelar tuanku yang diberikan bukan sekedar mereka adalah orang yang paham agama semata. Gelar ini juga sebagai bentuk penghormatan masyarakat atas keterlibatan orang orang tersebut dalam mengusir penjajah.
Onggang Parlindungan dalam bukunya "tuanku Rao" menyebutkan Harimau nan Salapan juga dikenal dalam Presidium Negara Darul Islam Minangkabau di masa lalu. Bertinda sebagai ketua adalah tuanku nan Renceh. Kelompok ini berkeinginan untuk membebaskan tanah Jawi (Indonesia) dari penjajahan dan buta-islam.
Pada masa itu dikenal periode masyarakat Minangkabau yang memiliki kebiasaan berjudi dan adu ayam. Namun keinginan untuk mengubah kebiasaan buruk tersebut tidak semudah yang dibayangkan. Dari sinilah muncul kaum adat dan kaum putih. Kaum adat yang menolak akan penyampaian dari tuanku nan Renceh beserta Harimau nan Salapan.
Perpecahan yang terjadi berbuah perang. Hingga pada tahun 1834 akhirnya disepakti sebuah perjanjian yang dikenal dengan Kesepakatan Bukik Marapalam. Hasilnya, terlihat dari falsafah hidup bangsa minang sekarang : Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah. Namun sebenarnya Tuangkau Renceh sendiri telah wafat dalam pertempuran melawan Belanda pada tahun 1826.
Dalam perjuangan Harimau nan Salapan ini, prinsip utamanya adalah mengembangkan paham Wahabi di tanah Minangkabau. Ini tak lepas dari peran tigo haji :Haji Piobang, Haji Sumanik dan Haji Miskin.
Dari beberapa catatan sejarah disebutkan bahwasanya, Haji Piobang merupakan lulusan Universitas Al Azhar di Mesir. Bahkan Haji Piobang pernah ikut serta dengan tentara Mesir dan Tentara Turki melawan pasukan Napoleon.
Tiga orang haji ini yang membantu tuanku nan Renceh dalam meluruskan ajaran Islam di Minangkabau dan membangunan kekuatan untuk mengusir penjajah.
Pengalaman Haji Piobang di Medan Perang, mampu membentuk kekuatan militer Padri waktu itu. Para tentara Padri terstruktur dengan pimpinan strukutur seperti militer.

You must be logged in to post a comment.