Biografi dan Perjuangan Bagindo Aziz Chan

Adalah seorang pejuang dan dikenal sebagai walikota Padang kedua setelah Abubakar Jaar. Beliau lahir di Padang tanggal 30 September 1910. Sayang, umur beliau hanya 36 tahun, dimana beliau wafat dalam pertempuran melawan Belanda tanggal 19 Juli 1947. Dan beliau dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Bahagia Bukittinggi.

Biografi dan Perjuangan Bagindo Aziz Chan

Sesuai dengan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 082/TK/2005, tanggal 7 November 2005, Bagindo Aziz Chan dianugerahi Bintang Maha Putera Adipradana dan Gelar Pahlawan Nasional Indonesia pada 9 November 2005.

Perjuangan Bagindo Aziz Chan

Sikap anti penjajah dalam diri beliau puncaknya pada tanggal 10 Oktober 1945. Beliau dengan tegas menolak tunduk pada Belanda.
 
Perjuangan melawan Belanda dilakukan dengan berbagai upaya. Mulai dari cara non-fisik yaitunya dengan penerbutan surat kabar perjuangan Republik Indonesia Jaya hingga perlawanan dengan angkat senjata.
 
Ini jelas terlihat, dimana penyebab wafatnya beliau karena pertempuran melawan Belanda. Dari hasil visum diketahui beliau meninggal setelah terkena pukulan benda tumpul dan ada 3 bekas luka tembakan di wajah.

Karir dan Pendidikan Bagindo Aziz Chan

Riwayat pendidikan beliau; pernah belajar di HIS Padang, MULO Surabaya dan AMS Batavia (Jakarta). Tercatat juga pernah menuntut ilmu di Rechtshoogeschool te Batavia (RHS).

Beliau sangat aktif di organisasi perjuangan. Ini dibuktikan dengan keanggotaan beliau di Jong Islamieten Bond di bawah pimpinan Agus Salim.

Kembalinya beliau ke Padang tahun 1935. Beliau berprofesi sebagai guru sembari aktif dalam organisasi Persatuan Muslim Indonesia (Permi) (dibubarkan pada tahun 1937).

Pasca kemerdekaan Republik Indonesia,pada tanggal 24 Januari 1946, beliau diangkat menjadi Wakil Walikota Padang. Berikutnya di bulan Agustus hari ke-15 beliau didaulat menjadi walikota Padang mengantikan Abubakar Jaar yang dipindahtugaskan menjad Residen di Sumatera Utara.

Perjuangan Bagindo Aziz Chan

Terakhir, sebagai penghormatan akan perjuangan beliau  sebuah monumen di persimpangan Jalan Gajah Mada dan Joni Anwar Padang dedikasikan untuk beliau. Monumen ini diresmikan tanggal 19 Juli 1983. Namun masyarakat lebih mengenal dengan Simpang Tinju, sebab monumen ini berbentuk kepalan tinju.

Ada juga monumen lain yang dibangun sebagia penghormatan akan jasa beliau di Taman Melati, Museum Adityawarman (hasil karya pelukis Wisran Hadi dan pemahat Arby Samah). Beberapa jalan utama di Sumatera Barat (Padang, Bukittinggi) menggunakan nama beliau; untuk mengenang beliau sebagai pahlawan besar kemerdekaan yang berjuang hingga mengorbankan nyawa. 

Suka Artikel Ini? Tetap dapatkan Informasi dengan Berlanggana via email

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Terkait
About Author

Dulunya ditulis di anakminang.com