Urutan Acara Tabuik di Pariaman

Tabuik, sebuah ritual tahunan yang diadakan bertepatan dengan 10 Muharam  (tahun Hijriah/Kalender Islam). Prosesi yang diketahui mungkin hanya pada tanggal 10 Muharam saja, dimana diaraknya sebuah beranda. Tabuik sendiri diartikan berupa beranda yang diarak tersebut. Tabuik dihiasi dengan kepala burung yang diasumsikan sebagai burung Buraq. Kepala Burung di lindungi dengan payung dengan hiasan bunga.

Tabuik akan dibawa oleh sejumlah orang, dengan setengah menari mereka berteriak " oyak husein'. Gerakan tarian tersebut akan diiringi denga gendang berukuran besar. Kemudian beranda Tabuik akan dilemparkan secara bersama sama ke laut.

Sebelum acara puncak tersebut, telah dilakukan beberapa acara sebelumnya. Di mulai tanggal 1 Muharam (9 hari sebelum acara puncak). Hari pertama akan diambil tanah dari dasar sungai. Acara tersebut sebagai lambang pengambilan jasad Husein (cucu nabi Muhammad) yang terbunuh. Tanah tersebut dimasukanke dalam periuk. Selanjutnya digunakan periuk untuk membungkus periuk tersebut, dilakukan bak mangkafani mayat. Periuk yang dibungkus kain putih itu akan ditaruh di tanah yang dilingkari pada dengan kain putih.

Selanjutnya, masyarakat mulai membentuk tabuik. Tabuik dengan desain seperti keranda dibuat seperti keranda untuk mengusung jenazah.

Tepat di hari ke-5 Muharam, akan dicari pohon pisang. Pohon pisang yang diambil harus ditebas dengan satu kali tebasan. Ini menceritakan bentuk balasan anak Husein terhadap orang yang membunuh Husein.

Pada hari ke-7 Muharam, mulai diarak jari jari. Yakni seperti maket kubah yan dibuat dengan kertas kaca berbingkai bambu. Kertas tersebut diberi gambar potongan jari tangan yang mengembang. Kemudian maket tersebut dipasangi lilin.

Jari jari tersebut diarak, sebagai kisah pencarian jasad Husein yang dicincang musuhnya. Jari tersebut di pertemukan dengan tanah yang ada dalam periuk (bagian awal tadi).

Untuk hari ke-9, surban Husein di arak. Sebagai bentuk penemuan surban Husein. Nah pada hari ke-10 baru diadakan acara puncak dengan mengarak secara sempurna keranda tadi.

Di malam harinya acara akan ditutup dengan indang. Kesenian lagu yang diiringi rebana. Dendang (lagu) yang dimainkan berkisah tentang Hasan dan Husein.

Kesenian ini rutin dilakukan sampai sekarang di kota Pariaman. Entah masih dipercaya sebagai ritual atau bagaimana, namun kesenian Tabuik ini telah menjadi ikon dan magnet wisata bagi kota Pariaman. Bagi yang penasaran dengan kemeriahan acara Tabuik ini, bisa datang ke Pariaman pada tanggal 10 Muharam (10 hari setelah Tahun Baru Islam). (bacokok dari : kabaranah.com).

Suka Artikel Ini? Tetap dapatkan Informasi dengan Berlanggana via email

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Terkait
About Author

Dulunya ditulis di anakminang.com