Keseharian Orang Minang anti Lelet Sudah Ditanamkan dari Kecil, Buktinya

Ketika bermenung-menung mengingat kampung terbitlah dipikiran saya. Begini pedih hidup di tanah orang. Tapi tak apalah, walaupun belum terbangkit batang terendam, tapi ada satu hal yang menjadi buah pemikiran saya. Ya tentang saya, mungkin selama ini masih kurang sigap jadinya masih belum terbangkit batang terendam itu.

Padahal dalam keseharian dibesarkan di pelukan bunda kandung sebenarnya kita telah diajarkan agar selalu lebih cepat dan punya watak satu langkah didepan orang lain. Tak ada sebenarnya bagi orang Minangkabau ini untuk berleha-leha dan lambat.

Prinsip yang cepat tegas dan akurat ini yang telah diterapkan oleh para orang orang sukses sepertinya. Kenapa tidak, ketika berbuat sesuatu dalam bahasa keseharian saja kita sudah diajarkan bagaimana seharusnya berada selalu terdepan. Jika tidak percaya cobalah kita ingat-ingat hal berikut ini.

Siap. ‘ Lah siap makan’? Bagi orang non Minang siap ini artinya baru akan. Sementara bagi orang Minangkabau ’siap’ ini artinya sudah selesai. Harus seperti itulah agaknya orang Minang bersikap diajarkan. Orang baru mau... kita sudah selesai.

Sanggup. Ini tentang optimis dalam melakukan sesuatu. Ketika berbuat sesuatu, harusnya sebagai orang Minangkabau telah mengukur semuanya. Sanggup, alias ‘takao/talok’. Sebelum berbuat sesuatu dengan perhitungan yang matang pasti ditanyakan ‘ Lai Takao?’ Jika diurai arti kata tersebut, Lai artinya sudah, Takao artinya sanggup. Nah bagi orang Minang selalu ditanya Sudah Sanggup? Jika dijawab dengan ‘Lai takao/Lai talok’ berarti dia sudah bisa atau sanggup melakukannya. Jika dibandingkan dengan kebiasaan orang lain pasti dengan kata ‘ Sanggupkah... atau mampukah...’ ; kata ini masih mempertanyakan punya kemampuan atau tidak. Jika diresapi kata ‘ Sudah sanggup?’ Ini menyatakan sebuah pernyatan bahwa orang minang Harus serba bisa, serba sanggup. Cuma mungkin jika ‘ndak taloka atau ndak takao’ mungkin karena belum cukup saja. Hahaha. Semoga sanak semua bisa membedakan belum cukup dengan tidak punya.

Itulah sedikit yang terpikirkan dan menjadi pelajaran bagi saya waktu termenung-menung itu. Entah ini benar atau tidak, saya sampaikan saja di sini. Jika ada yang baik semoga bisa diambil yangbaiknya itu, jika salah ya mungkin kekeliruan anak muda yang setahun jagung, muda mentah renyah dan meriah baru. Maafkanlah. (dikirim dek sanak kito di rantau, alah banamo alun bagala)

Suka Artikel Ini? Tetap dapatkan Informasi dengan Berlanggana via email

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Terkait
About Author

Dulunya ditulis di anakminang.com