Di dalam pengertian filsafat pengetahuan biasanya didefinisikan sebagai "keyakinan yang terjustifikasi dengan benar" atau biasa disebut juga "Justified True Believer". Jadi syarat-syarat dari laku mental dikatakan sebagai sebuah pengetahuan itu adalah bahwa dia mengandung "Keyakinan" dan Keyakinan itu telah ter-justifikasi yang artinya bahwa terdapat-nya bukti atau ada buktinya. Lalu kemudian keyakinan yang sifatnya benar terjustifikasi tersebut adalah juga benar "menggambarkan kenyataan".
Dan dari situ, jikalau tiga hal tersebut terpenuhi, maka kita memperoleh apa yang disebut sebagai "Pengetahuan". Dari sinilah anggapan klasik tentang pengetahuan itu kemudian dipertanyakan di tahun 60-an oleh seorang bernama "Edmund Gettier" seorang filsuf dari Amerika. Edmund Gettier lalu menulis suatu artikel pendek sekitar empat halaman di suatu jurnal yang sangat prestisius di lingkaran filsafat, khususnya filsafat analitik. Nama jurnal itu adalah "ANALYSIS". Judul artikel pendek itu adalah sebuah pertanyaan: "Apakah keyakinan yang terjustifikasi dengan benar itu adalah pengetahuan?" atau dalam bahasa Inggris: "Is Justified True Belief Knowledge?" Di dalam artikel itu Edmund Gettier mempersoalkan atau mengajukan satu eksperimen pikiran yang kemudian terkenal dan banyak dikomentari, mungkin sampai sekarang sudah ratusan kali.
Yaitu suatu eksperimen pikiran yang berangkat dari situasi yang dibayangkan, misalkan: "Katakanlah ada dua orang yang sedang melamar pekerjaan. Yang satu namanya 'Aji' yang satu lagi namanya 'Anton'. Lalu Aji ini mempunyai keyakinan bahwa Anton pasti yang akan sukses diterima lamarannya dan Aji juga yakin bahwa didalam kantong Anton itu terdapat uang Rp.10.000 dalam bentuk uang kertas. Dan landasan dari keyakinan Aji tersebut adalah bahwa sebelumnya dia mendengar dari salah seorang pejabat atau pimpinan di perusahaan penerima lamaran itu yang mengatakan bahwa Anton-lah yang kayaknya bakal mendapat pekerjaan dan selain itu juga dia sudah melihat sendiri bahwa Anton itu pada waktu sebelum interview atau waktu masih menunggu wawancara telah mengeluarkan uang Rp.10.000 dari kantongnya dan di dalam kantongnya sudah tidak ada lagi uang. Jadi uang Anton hanya Rp.10.000 rupiah itu saja. Dengan kata lain keyakinan Aji bahwa Anton itulah yang akan mendapatkan pekerjaan dan di dalam kantongnya Anton itu ada uang Rp.10.000 itu adalah suatu keyakinan yang "terjustifikasi dengan benar" karena tadi dia mendengar langsung bahwa si Anton lah yang dapat pekerjaan itu. Dengan begitu kan telah terjustifikasi, dan juga dia melihat bahwa di dalam kantongnya Anton kan ada uang Rp.10.000. Lalu kemudian Aji menarik satu kesimpulan bahwa yang akan mendapatkan pekerjaannya itu adalah orang yang dikantongnya punya uang Rp.10.000. itu adalah kesimpulan dari Aji. Di mana maksud Aji adalah si Anton itulah yang akan dapat pekerjaan yang di kantongnya ada uang Rp.10.000."
Lalu sekarang kita bayangkan kalau yang akan mendapat pekerjaan itu sebetulnya bukan Anton tetapi Aji dan bahwa didalam kantong Aji sendiri secara tidak dia sadari juga hanya ada uang Rp.10.000 rupiah? Kemudian pertanyaan Edmund Gettier adalah: pernyataan tersebut adalah merupakan sebuah pengetahuan atau bukan? Dimana pernyataan yang kedua tadi kan menyatakan bahwa orang yang akan mendapat pekerjaan adalah orang yang di dalam kantongnya ada uang Rp.10.000 Rupiah, dan Aji meyakini itu dan didasari oleh justifikasi dengan benar akan tetapi itu mengenai Anton bukan mengenai dirinya sendiri. Lalu kalau misalnya ternyata bukan Anton yang dapat pekerjaan tapi Aji-lah yang dapat pekerjaan itu dan di dalam kantongnya ada uang Rp. 10.000 rupiah, maka kesimpulan Aji tadi apakah itu merupakan pengetahuan atau kepercayaan biasa? Masalahnya disini menurut Edmund Gettier, keyakinan Aji bahwa si pemenang itu adalah orang yang punya uang Rp. 10.000 rupiah di kantong itu kan didasari oleh asumsi yang keliru tentang subjek yang menang itu. Makna dari Proposisi itu kan sebetulnya merujuk ke Anton bukan ke Aji itu sendiri. Jadi dalam arti tersebut tidak bisa donk dia dikatakan mengetahui proposisi tersebut karena proposisi tersebut maknanya beda dengan apa yang dia maksudkan. Berarti kalau demikian maka pengetahuan itu tidak bisa di-definisikan hanya dengan "Justified True Believer" atau "keyakinan yang terjustifikasi dengan benar". Definisi tersebut menjadi kurang lengkap. Ada sesuatu yang harus ditambahkan kedalam definisi tersebut sehingga dia bisa mendefinisikan secara utuh tentang apa yang disebut sebagai pengetahuan.
Itulah yang kemudian memicu perdebatan panjang dan lebar, yang sampai sekarang eksperimen pikiran yang dibuat oleh Edmund Gettier tersebut tidak menemukan jawabannya. Begitu banyak usaha untuk memecahkannya, dengan mencari suatu unsur tambahan dari keyakinan yang terjustifikasi dengan benar sehingga dia menjadi Pengetahuan. Yang menarik dari eksperimen pikiran Edmund Gettier ini adalah bahwa dia bisa menunjukkan "Keterbatasan" dari konsep pengetahuan yang sudah diyakini oleh para filsuf sejak Plato. Dimana Plato telah membagi tahap-tahap pengetahuan mulai dari dasar yang paling bawah yaitu keyakinan. Baru dari situlah kemudian orang bisa naik tahapannya menjadi pengetahuan, kebijaksanaan dan seterusnya. Jadi konsep Keyakinan itu sifatnya adalah unsur atau bagian dari pengetahuan, tetapi keyakinan saja itu tidak cukup. Harus diiringi oleh satu landasan, dan landasan itu harus benar.
Jadi dari hal itu dengan demikian kita punya tiga unsur pengetahuan yaitu: Keyakinan, Keyakinan yang terjustifikasi, Keyakinan yang terjustifikasi dengan benar. Dari situlah yang kemudian didefinisikan selama berabad-abad sebagai "Pengetahuan". Dimana pengetahuan itu dikonfirmasi berulang kali dan ada perubahan yang berbeda-beda dan juga variasi-variasi kecil, tetapi garis besarnya itu adalah bahwa Pengetahuan Adalah Keyakinan Yang Terjustifikasi Dengan Benar.
Dan dengan satu eksperimen pikiran yang ditulis di satu artikel setebal empat halaman itu "Edmund Gettier" itu meruntuhkan keseluruhan argumen para filsuf yang sudah menjadi mapan selama berabad-abad. Dan dari situlah orang kemudian selalu merujuk kepada "Edmund Gettier" ketika mereka membahas tentang "Epistemologi". Hampir tidak ada Epistemologi Kontemporer atau kajian tentang Ilmu Pengetahuan Kontemporer yang tidak merujuk ke Edmund Gettier.

You must be logged in to post a comment.