Bulan Muharram merupakan salah satu bulan yang dimuliakan (asyhurul hurum) oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala seperti dijelaskan di dalam Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 36 yang menjelaskan bahwa, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah adalah 12 bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram.”
Alasan Muharram dimuliakan adalah, karena di pada bulan Muharram terdapat hari Asyura. Pada hari itu banyak terjadi peristiwa menakjubkan, diantaranya selamatnya Nabi Musa as dari kejaran pasukan Fir’aun. Sebagai bentuk syukur, Nabi Musa as berpuasa pada hari tersebut. Berikutnya, umat Yahudi mengikuti apa yang dilakukan nabinya itu, berpuasa setiap 10 Muharram.
Dikatakan oleh Imam Fakhruddin ar-Razi, puasa 10 Muharram bagi umat Yahudi merupakan satu-satunya puasa yang dilakukan dalam kurun waktu satu tahun. Jika umat Islam punya puasa Ramadhan, maka umat Yahudi punya puasa Asyura.
Menurut penjelasan Syekh Muhammad bin ‘Abdul Baqi az-Zurqani (wafat 1710 M) dalam kitabnya Syarhu Mawâhibil Ladduniyyah dengan mengutip Imam al-Qurtubi, Nabi Muhammad berpuasa Asyura untuk meluluhkan hati orang Yahudi. Ini merupakan salah satu metode dakwah Nabi saw dalam mengajak Ahlul Kitab (Yahudi dan Nasrani) untuk masuk Islam.
Dengan puasanya Nabi saw Asyura, orang Yahudi akan berpikir, ternyata, syari’at Nabi Muhammad saw tidak jauh berbeda dengan syari’at nabi mereka, Musa as.
Dengan persepsi demikian, Yahudi tadi akan berkesimpulan, baik agama yang dibawa Nabi Musa as maupun Nabi Muhammad saw, keduanya memiliki ajaran, sumber, dan Tuhan yang sama (Allah swt).
Mereka luluh dan berikutnya lebih mudah diajak masuk Islam. Meskipun pada akhirnya, Nabi saw memerintahkan umat Islam untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharram (Tasu’a), agar tidak sama dengan Yahudi.

You must be logged in to post a comment.