"Dia ibuku. Cinta kasihku. Pengorbananmu tak kan pernah berhenti...."
Seorang sahabat bertanya Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, kepada siapakah seharusnya aku harus berbakti pertama kali?”. Nabi memberikan jawaban dengan ucapan “Ibumu” sampai diulangi tiga kali, baru kemudian yang keempat Nabi mengatakan “Ayahmu” (HR. Bukhari dan Muslim).
Malam ini aku teringat dengan ibu yang jauh di sana. Wanita yang mampu menjadi aku seperti sekarang ini. Di usia yang ke-61 Ibu sudah tampak lelah. Keriput sudah tampak di berbagai sudut wajahnya. Wanita yang dulu tegar mengasuh anak-anaknya hingga dewasa masih sibuk dengan kebun kecilnya. Dialah ibuku.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah beranjak dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai. Dan berilah aku kebaikan yang akan terus mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau, dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” – (Q.S Al-Ahqaf: 15)
Banyak cerita kehidupan yang terangkai dalam jalinan sarafku bersamanya. Rasa kesal dan amarah kepada ibuku pun seringkali tidak terelakkan. Namun, aku tahu dialah ibuku. Semarah apa pun aku, dia tetaplah ibuku. Semarah apa pun dia padaku, baginya aku tetap anaknya. Omelannya yang tajam terpercaya mampu menusuk hati juga sering melukai hatiku. Namun, aku berlapang dada dan tak ada dendam sedikit pun pada ibu.
Kadang aku dan ibuku sering berbeda pendapat tentang satu hal. Kadang karena pendapat itu akhirnya aku mendiamkannya. Namun rasa bersalah itu membuat aku tidak kuat untuk memikirkannya. Ibu hadir dalam alam bawah sadarku. Karenanya mimpilah aku.
Keegoanku memaksaku untuk bungkam dan mengunci mulutku untuk mengucap sepatah kata maaf pada ibu. Ah, mimpi yang menyeramkan hadir padaku setelah sorenya bertengkar mulut dengan ibu.
Di dalam mimpi itu aku ketakutan dikejar hewan buas. Sangkin takutnya aku bersembunyi di bawah kasur. Tidak ada seorang pun saat itu. Sampai kupanggil satu kata 'ibu'. Mendengar panggilanku itu, ibu bergegas menuju kamarku. Dengan membawa sapu, ibu mengusir hewan buas itu hingga pergi. Selamatlah aku akhirnya.
Ibu seakan-akan lupa ingatan jangka pendek. Ibu lupa kalau kemarin sore memarahiku, sedangkan aku sangat ingat kejadian sore itu. Dengan wajah yang tidak lagi marah, ibu membuatkanku sarapan dan menyuruhku minum. Ah, lagi-lagi keegoanku menutupi rasa sedih di hatiku. Tanpa kata maaf terucap dariku. Aku memakan sarapan buatannya.
Itu terjadi berpuluh tahun yang lalu ketika ibu masih melangkah dengan cepat menuju tempat kerjanya. Ketika itu egoku begitu tinggi mengalahkan nalar yang benar. Di rumah itu, ibu, aku, dan anggota keluarga lain mengukir cerita suka dan duka. Ibu tetaplah ibu. Selelah apa pun dia akan tetap menjadi ibu. Hanya seuntai doa yang bisa kupanjatkan untuk ibu.
Allahummaghfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa robbayaanii shoghiiroh.
Sayangi ibu selagi masih ada karena dia menyayangimu. Buang semua kesal dan sakit hatimu padanya karena kadang dia pun tidak menyadarinya. Semoga kita bisa menjadi anak yang berbakti dan menjadi ibu yang baik untuk anak-anak kita.
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan payah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu. (14) Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan-Ku dengan sesuatu yang engkau tidak memiliki pengetahuan tentang itu, maka janganlah engkau mematuhi keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Ku lah tempat kembalimu, maka akan Aku beritahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (15) – (Q.S Luqman: 14-15).
Quote:
Cintailah Ibu meskipun dia tidak pernah memintanya. Doakan kebaikan untuknya meskipun dialah yang banyak berdoa untuk keberhasilan kita.

You must be logged in to post a comment.