Saat fase memasuki musim panas, dengan pohon berbunga dan burung bermigrasi, alam tampak berlimpah. Kenyataannya, bagaimanapun itu, Bumi telah kehilangan hewan, burung, reptil dan makhluk hidup lainnya begitu cepat sehingga beberapa ilmuwan percaya bahwa planet ini memasuki "Kepunahan Massal Ke-enam" dalam sejarahnya.
Pada agenda "Environmet Programme" yang terjadwal tanggal 7-19 Desember 2022 di Montreal, Canada, PBB akan mengumpulkan pemerintah dari seluruh dunia di untuk menetapkan tujuan baru untuk melindungi ekosistem Bumi dan keanekaragaman hayatinya yang mana keragaman kehidupan di semua tingkatan, dari gen hingga ekosistem.
Beberapa orang, budaya, dan negara percaya bahwa keanekaragaman hayati layak dilestarikan karena ekosistem menyediakan limpahan manfaat juga keuntungan yang mendukung kemakmuran, kesehatan, dan kesejahteraan manusia. Yang lain juga menegaskan bahwa semua makhluk hidup memiliki hak untuk hidup, terlepas dari kegunaannya bagi manusia. Saat ini, ada juga pemahaman yang berkembang bahwa alam memperkaya hidup kita dengan memberikan kesempatan bagi kita untuk terhubung satu sama lain dan tempat-tempat yang kita sayangi.
Sebagai pemerhati alam, penulis telah menjadi bagian dari upaya untuk menghargai keanekaragaman hayati selama bertahun-tahun. Inilah bagaimana pemikiran di bidang ini telah berkembang, dan mengapa penulis melihat bahwa ada banyak alasan yang sama positif-nya untuk melindungi alam.
Mempertahankan Setiap Spesies
Biologi konservasi adalah bidang ilmiah dengan misi: melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati di seluruh dunia. Itu muncul pada tahun 1980-an, ketika dampak manusia di Bumi menjadi sangat jelas.
Dalam esai tahun 1985, Michael Soulé, salah satu pendiri bidang ini, menggambarkan apa yang dilihatnya sebagai prinsip inti konservasi. Soulé berpendapat bahwa keanekaragaman hayati secara Inheren baik dan harus dilestarikan karena memiliki nilai Intrinsik. Dia juga mengusulkan bahwa ahli biologi konservasi harus bertindak untuk menyelamatkan keanekaragaman hayati bahkan jika ilmu pengetahuan tidak tersedia untuk menginformasikan keputusan atau kebijakan.
Bagi para kritikus, prinsip Soulé terdengar lebih seperti aktivisme lingkungan daripada sains. Terlebih lagi, tidak semua orang setuju, dulu ataupun sekarang, bahwa keanekaragaman hayati pada dasarnya baik.
Lagi pula, hewan liar dapat merusak tanaman dan membahayakan kehidupan manusia. Kontak dengan alam dapat menyebabkan penyakit. Dan beberapa inisiatif konservasi telah menggusur orang dari tanah mereka atau mencegah pembangunan yang mungkin dapat meningkatkan kehidupan masyarakat.
Menghargai Jasa Alam
Esai Soule mendorong banyak peneliti untuk mendorong pendekatan konservasi yang lebih didorong oleh sains. Mereka berusaha untuk secara langsung mengukur nilai ekosistem dan peran yang dimainkan spesies di dalamnya. Beberapa sarjana berfokus pada perhitungan nilai ekosistem bagi manusia. Mereka mencapai kesimpulan awal bahwa nilai ekonomi total ekosistem dunia bernilai rata-rata US$33 triliun per tahun pada nilai dolar tahun 1997. Pada saat itu, ini hampir dua kali nilai global pasar keuangan seluruh dunia. Perkiraan ini mencakup layanan seperti predator yang mengendalikan hama yang akan merusak tanaman, penyerbuk membantu menghasilkan buah-buahan dan sayuran, lahan basah, bakau, dan sistem alami lainnya yang melindungi pantai dari badai dan banjir; lautan menyediakan ikan untuk makanan; dan hutan menyediakan kayu dan bahan bangunan lainnya.
Para peneliti telah menyempurnakan perkiraan mereka tentang nilai manfaat ini , tetapi kesimpulan utama mereka tetap sama: Alam memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi yang tidak diperhitungkan oleh pasar keuangan yang ada.
Kelompok kedua mulai mengukur nilai non-moneter dari alam untuk kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan manusia. Studi biasanya melibatkan orang dalam kegiatan di luar ruangan , seperti berjalan-jalan di ruang hijau, mendaki gunung di hutan, atau berkano di danau. Kemudian, mereka mengukur kesehatan fisik atau emosional subjek.
Penelitian ini menemukan bahwa menghabiskan waktu di alam cenderung menurunkan tekanan darah, menurunkan hormon yang berhubungan dengan stres dan kecemasan, menurunkan kemungkinan depresi dan meningkatkan fungsi kognitif dan fungsi kekebalan tertentu. Orang-orang yang terpapar alam bernasib lebih baik daripada orang lain yang mengambil bagian dalam kegiatan serupa di lingkungan non-alami, seperti berjalan-jalan di kota.
Kehilangan Spesies Melemahkan Ekosistem
Baris ketiga penelitian mengajukan pertanyaan yang berbeda: Ketika ekosistem kehilangan spesies, apakah mereka masih dapat berfungsi dan memberikan jasa? Pekerjaan ini didorong terutama oleh eksperimen di mana para peneliti secara langsung memanipulasi keragaman berbagai jenis organisme dalam pengaturan, mulai dari kultur laboratorium hingga rumah kaca, plot di ladang, hutan, dan daerah pesisir.
Pada 2010, para ilmuwan telah menerbitkan lebih dari 600 eksperimen, memanipulasi lebih dari 500 kelompok organisme di ekosistem air tawar, laut, dan darat. Dalam tinjauan tahun 2012 atas eksperimen ini, ditemukan bukti tegas bahwa ketika ekosistem kehilangan keanekaragaman hayati, ekosistem menjadi kurang efisien, kurang produktif, dan kurang stabil. Dan mereka kurang mampu memberikan banyak layanan yang mendasari kesejahteraan manusia.
Misalnya, kami menemukan bukti kuat bahwa hilangnya keragaman genetik mengurangi hasil panen, dan hilangnya keragaman pohon mengurangi jumlah kayu yang dihasilkan hutan. Kami juga menemukan bukti bahwa lautan dengan spesies ikan yang lebih sedikit menghasilkan tangkapan yang kurang dapat diandalkan, dan bahwa ekosistem dengan keanekaragaman tumbuhan yang lebih rendah akan lebih rentan terhadap hama dan penyakit invasif.
Bukti juga menunjukkan bahwa adalah mungkin untuk mengembangkan model matematis yang kuat yang dapat memprediksi dengan cukup baik bagaimana hilangnya keanekaragaman hayati akan mempengaruhi jenis jasa berharga tertentu dari ekosistem.
Berbagai Motif Untuk Menjaga Alam
Selama bertahun-tahun, kita percaya kalau pekerjaan ini telah menetapkan nilai ekosistem dan mengukur bagaimana keanekaragaman hayati menyediakan jasa ekosistem. Tetapi saya menyadari bahwa argumen lain untuk melindungi alam sama-sama validnya, dan seringkali lebih meyakinkan bagi banyak orang.
Penulis telah berinteraksi dengan berbagai orang yang menyumbangkan uang atau tanah untuk mendukung konservasi. Tapi belum pernah mendengar ada yang mengatakan mereka melakukannya karena peran nilai ekonomi keanekaragaman hayati atau perannya dalam mempertahankan jasa ekosistem.
Akan terapi mereka berbagi cerita tentang bagaimana mereka tumbuh memancing dengan ayah mereka di telaga atau danau, mengadakan pertemuan keluarga di kabin atau berperagu dengan seseorang yang penting bagi mereka. Mereka ingin mewariskan pengalaman itu kepada anak dan cucu mereka untuk menjaga intensi hubungan keluarga. Para peneliti semakin menyadari bahwa nilai-nilai relasional seperti itu, juga hubungan dengan komunitas dan tempat-tempat tertentu adalah salah satu alasan paling umum mengapa orang memilih untuk melestarikan alam.
Penulis juga mencoba memahami bahwa banyak orang yang memegang keyakinan agama yang mendalam dan jarang terpengaruh oleh argumen ilmiah untuk konservasi. Tetapi ketika Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik-nya (Surat Amanat Paus) tahun 2015 Laudato si': On Care for Our Common Home dan mengatakan para pengikut Tuhan memiliki tanggung jawab moral untuk merawat ciptaan-Nya, kerabat, teman, dan kolega, mendadak ingin tahu tentang hilangnya keanekaragaman hayati dan apa yang mungkin terjadi dan lakukan tentang hal itu.
Survei juga menunjukkan bahwa 85% populasi dunia menganut agama-agama besar. Para pemimpin dari setiap agama besar telah menerbitkan deklarasi yang mirip dengan ensiklik Paus Fransiskus, menyerukan para pengikut mereka untuk menjadi pelayan Bumi yang lebih baik. Belum lagi berbagai aturan adat atau tradisi kebudayaan setempat di tiap daerah atau suku yang juga mewariskan nilai-nilai moral positif yang kurang lebih sama tersebut. Tidak diragukan lagi, sebagian besar umat manusia memberikan nilai moral kepada alam.
Penelitian tersebut dengan jelas menunjukkan bahwa alam memberi manusia nilai yang sangat besar. Tetapi beberapa orang hanya percaya bahwa spesies lain memiliki hak untuk hidup, atau bahwa agama mereka mengatakan kepada mereka untuk menjadi penjaga Bumi yang baik. Seperti yang penulis lihat dan hipotesa-kan, merangkul perspektif yang beragam ini adalah cara terbaik untuk mendapatkan dukungan lokal maupun global untuk melestarikan ekosistem Bumi dan makhluk hidup untuk kebaikan semua.

You must be logged in to post a comment.