Menurut Nurhadi (2004:102-103) pembelajaran yang relevan dengan misi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) diantaranya adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif (Cooperative learning) adalah pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Manusia memiliki derajat potensi, latar belakang histories, serta harapan masa depan yang berbeda-beda. Karena perbedaan itu, manusia dapat saling asah, asih, dan asuh (saling mencerdaskan).
Pembelajaran kooperatif menciptakan interaksi yang asah, asih, asuh sehingga tercipta masyarakat belajar (learning community). Siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga teman dari siswanya.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran secara sadar dan sengaja mengembangkan interaksi yang silih asuh untuk menghindarkan ketersinggungan dan kesalahpahaman yang dapat menimbulkan permusuhan, sebagai latihan hidup di masyarakat.
Pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran yang didalamnya terdapat elemen-elemen yang saling terkait. Elemen-elemen itu adalah (1) saling ketergantungan positif, (2) interaksi tatap muka, (3) akuntabilitas individual, dan (4) keterampilan untuk menjalain hubungan antar pribadi atau keterampilan social yang secara sengaja diajarkan, Nurhadi (2004:116)
1. Saling ketergantungan positif
Guru menciptakan suasana yang mendorong agar siswa merasa saling membutuhkan. Saling ketergantungan dapat dicapai melalui : (a) saling ketergantungan mencapai tujuan, (b) saling ketergantungan menyelesaikan tugas, (c) saling ketergantungan bahan atau sumber, (d) saling ketergantungan peran, (e) saling ketergantungan hadiah.
2. Interaksi tatap muka
Interaksi tatap muka akan memaksa saling tatap muka dalam kelompok sehingga dapat berdialog. Dialog tidak hanya dilakukan dengan guru terhadap siswa tetapi juga siswa dengan siswa.
3. Akuntabilitas individual
Pembelajaran kooperatif menampilkan wujudnya dalam belajar kelompok. Penilaian ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa terhadap materi pelajaran secara individual. Hasilnya selanjutnya disampaikan oleh guru kepada kelompok agar semua anggota kelompok mengetahui siapa yang memerlukan bantuan dan siapa yang akan membantu. Nilai kelompok didasarkan atas rata-rata hasil belajar semua anggotanya. Penilaian kelompok yang didasrkan atas rata-rata penguasaan semua anggota kelompok secara individual ini yang dimaksud dengan akuntabilitas individual.
4. Keterampilan menjalin hubungan antar pribadi
Keterampilan sosial seperti tenggang rasa, sikap sopan terhadap teman, mengkritik ide dan bukan mengkritik teman, berani mempertahankan pikiran logis, tidak mendominasi orang lain, mandiri tidak hanya diasumsikan tetapi secara sengaja diajarkan. Siswa yang tidak dapat menjalin hubungan antarpribadi akan memperoleh teguran dari guru juga dari sesama.
Metode Cooperative Learning tipe STAD adalah metode pembelajaran kooperatif yang dikembangkan oleh Robert E Slavin dan kawan-kawan dari Universitas John Hopkins. Metode ini dipandang yang paling sederhana dan paling langsung dari pendekatan pembelajaran kooperatif. Para guru menggunakan metode STAD untuk mengajarkan informasi akademik baru kepada siswa baik melalui penyajian verbal maupun tertulis. Para siswa di dalam kelas dibagi menjadi beberapa kelompok tim, masing-masing tim terdiri atas 4 atau 5 anggota kelompok. Tiap tim memiliki anggota yang heterogen, baik jenis kelamin, ras, etnik, maupun kemampuan (tinggi, sedang, rendah). Tiap anggota tim menggunakan lembar kerja akademik; dan kemudian saling membantu untuk menguasai bahan ajar melalui tanya jawab atau diskusi antar anggota tim.
Secara individual atau tim, tiap minggu atau tiap dua minggu guru mengevaluasi untuk mengetahui penguasaan mereka terhadap bahan akademik yang telah dipelajari. Tiap siswa dan tiap tim diberi skor atas penguasaannya terhadap bahan ajar, dan kepada siswa secara individu atau tim yang meraih prestasi tertinggi atau memperoleh skor sempurna diberi penghargaan. Kadang-kadang beberapa atau semua tim memperoleh penghargaan jika mampu meraih suatu kriteria atau standar tertentu.
STAD singkatan dari Student Teams Achievement Division yang berarti kelompok siswa yang menghasilkan kesuksesan dalam artian sukses belajar. Inti kegiatan dalam STAD adalah sebagai berikut: (1) Mengajar: Guru mempresentasikan materi pelajaran yang sesuai dengan yang disyaratkan oleh silabus pengajaran. (2) Belajar dalam tim: siswa dengan bimbingan dan arahan guru belajar melalui kegiatan kerja dalam kelompok mereka dengan dipandu oleh LKS untuk mengerti dan menuntaskan materi pelajaran. (3) Pemberian kuis : Siswa mengerjakan kuis secara individual dan siswa tidak boleh bekerja sama dengan yang lain. (4) penghargaan: pemberian penghargaan pada siswa yang berprestasi dan tim yang memperoleh skor tertinggi dalam menyelesaikan kuis. (Muhamad Nur, 1999:23).
Prosedur pelaksanaan metode Cooperative Learning tipe STAD dalam pengajaran matematika dapat digambarkan sebagai berikut : guru merencanakan proses pembelajaran yang sesuai dengan silabus pengajaran dengan menyiapkan LKS, meteri pelajaran, kuis, lembar angket observasi aktivitas siswa, lembar observasi guru dan rubrik kinerja guru serta perangkat pengajaran di rumah untuk diberikan kepada siswa di depan kelas, topik yang akan dibahas adalah materi Perbandingan dan fungsi Trigonometri sub pokok bahasan aturan sinus cosinus dan luas segitiga. Pada saat yang sudah ditentukan semua perencanaan dilaksanakan pada kelas yang dimaksud.
Langkah-langkah pembelajaran kooperatif STAD adalah sebagai berikut :
FASE KEGIATAN GURU
Fase 1
Menyampaikan tujuan dan memo-tivasi siswa Guru menyampaikan semua tujuan pembelajaran yang ingin dicapai pada pelajaran tersebut dan memotivasi siswa belajar satu topik yang sudah ditentukan lebih dahulu.
Fase 2
Menyajikan informasi Guru menyajikan informasi kepada siswa baik dengan peragaan (demonstrasi) atau teks mengenai topik yang diajarkan.
Fase 3
Mengorganisasikan siswa kedalam kelompok-kelompok belajar Guru menjelaskan siswa bagaimana caranya membentuk kelompok belajar dan membantu setiap kelompok agar melakukan perubahan yang efisien.
Fase 4
Membantu kerja kelompok dalam belajar Guru membimbing kelompok-kelompok pada saat mereka mengerjakan tugas dan mendiskusikan pekerjaannya dalam kelompok masing-masing dan tiap individu anggota kelompok memiliki tugas dan tanggung jawab yang sama untuk menguasai materi pelajaran.
Fase 5
Mengetes materi Guru mengetes individu atau kelompok untuk mengevaluasi penguasaan mereka terhadap materi bahan ajar
Fase 6
Memberikan penghargaan Guru memberikan penghargaan dengan baik semua upaya maupun hasil belajar dengan memberikan skor pada individu dan kelompok
Keuntungan pembelajaran kooperatif STAD antara lain :
a. meningkatkan kepekaan dan kesetiakawanan social
b. memungkinkan para siswa saling belajar mengenai sikap, keterampilam, informasi, perilaku sosial, dan pandangan-pandangan
c. Memudahkan siswa melakuakan penyesuaian sosial
d. Memungkinkan terbentuknya dan berkembangnya nilai-nilai sosial dan komitmen
e. Menghilangkan sifat mementingkan diri-sendiri
f. Membangun persahabatan yang dapat berlanjut hingga masa dewasa
g. Berbagai keterampilan sosial yang diperlukan untuk memelihara hubungan saling membutuhkan dapat diajarkan dan dipraktekan
h. Meningkatkan rasa saling percaya kepada sesama manusia
i. Meningkatkan kemampuan memandang masalah dan situasi dari berbagai perspektif
j. Meningkatkan kesediaan menggunakan ide orang lain yang dirasakan lebih baik
k. Mendorong guru untuk berkreatif meningkatkan kinerjanya.
Kelemahan pembelajaran kooperatif STAD antara lain :
a. Apabila pembelajaran kooperatif STAD merupakan pembelajaran yang baru diketahui, kemungkinan yang timbul adalah sejumlah siswa bingung, sebagian mungkin kehilangan rasa percaya diri, saling mengganggu antar siswa
b. Jika siswa bertipe tidak dapat bekerja sama maka kelompok menjadi kurang baik.
c. Bagi guru yang tidak kreatif hal ini hanya merupakan beban saja.

You must be logged in to post a comment.