Biografi dan Perjuangan Sutan Syahrir

Di banyak kesempatan berbicara sejarah, nama Sutan Syahrir (juga di eja Sutan Sjahrir) tentu termasuk seorang lelaki yang tak boleh dilupakan sepak terjangnya dalam perjuangan kemerdekaan negara Indonesia ini. Banyak jalan yang diberi dengan nama beliau sebagai upaya mengenang jasa beliau atas terbebasnya negeri ini dari kolonialisme. Lebih dalam mari kita kenali beliau dengan beberapa utasan di bawah ini.

Kehidupan Soetan Sjahrir

Beliau lahir tepatnya di Padang Panjang  pada tangga; 5 bulan ke-tiga tahun 1909. Dan wafat fi tanggal 9 April pada tahun 1966. Pernah mengemban amanat sebagai perdana menteri Indonesia di masa bakti 14 Nov 1945 sampai 20 Jun 1947. Dikenal juga sebagai pendiri Partai Sosialis Indonesia .. Beliau tetap dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.
 

Pendidikan Sutan Syahrir

Pendidikan dasar ELS dan sekolah Menengah (waktu itu MULO) diperoleh di Medan. Beliau aktif membaca buku berbahasa Belanda mulai dari pengetahuan hingga novel, sejarah dll. Kegiatan malam ikut bermain musik di Hotel de Boer dengan tamu dari bangsa asing dahulunya.
 
Se-tamat di sekolah MULO pendidikan beliau dilanjutkan di sekolah AMS Bandung. Tahukah anda jika itu sekolah adalah sekolah HIndia Belanda yang termahal kala itu. Kegiatanya di isi dengan ikut serta tergabung dalam Himpunan Teater Mahasiswa Indonesia. Aktor, penulis skenario hingga sutradara dijalaninya. Dari hasil tersebut beliau mendanai sekolah yang didirikannya yakni  Tjahja Volksuniversiteit, Cahaya Universitas Rakyat.
 
Bukan sekedar mahasiswa kutu buku, aktivitas beliau dikenal pada debat sekolah, aktivis pendidikan yang memberikan pendidikan gratis pada orang tak mampu melalui Tjahja Volksuniversiteit. Hingga pada suaatu titik aksi beliah menyentuh perpolitikan. 
 
Beliau termasuk 10 penggagas pendiri Himpunan pemuda nasionalis yang diwadahkan dalan Jong Indonesie. Inilah yang menjadi promotor lahirnya sumpah pemuda.

Takdir belajar membawa belkiau ke Belanda di Universitas Amsterdam pada fakultas HUkum. Sosialisme dia dalami. Akrab dengan Salomon Tas, dan istri Salomon Tas ini yakninya Maria Duchetau yang dinikahi Syahrir. Namun pernikahannya tak berlangsung lama.
 
Karena paham sosialisme, beliah sangat anti liberalisme. Kehidupannya menerapakan berbagi dengan yang lain. Kecuali dalam satu hal, sikat gigi. Begitulah kenang teman dekat beliau Salomon Tas. Beliau juga aktif dalam perhimpaunan Indonesia (PI) yang dipimpin M. Hatta waktu itu. Bersama dengan proklamator tercinta, Hatta beliau aktif menulis di majalah pendidikan nasional kala itu, Daulat Rakjat. Pendidikan adalah jalan utama untuk kemerdekaan, itulah salah satu kalimat paling membara dari beliau.
 

Perpolitikan Sutan Syahrir

Pada tahun 1932, Hatta dan Syahrir menuntun PNI Baru setelah kembali dari Belanda. LAhirlah kader pergerakan yang aktif yang dinilai pemerintah Belanda lebih radikal dibanding PNI Soekarno yang hanya bertumpu pada gerakan massa. Para kader PNI Baru lebih cendrung revolusioner.
 
Ancaman ini ditanggapi pemerintah Belanda pada Februari tahun 1934. Hatta, Syahrir dan beberapa anggota PNI Baru diasingkan ke Boven Digul. Akhirnya karena wabah malaria, mereka dipindahkan ke Bnada Neira dan diasingkan dalam waktu 6 tahun.
 

Syarir pada Masa Pendudukan Jepang

Saat Soekarno dan Hatta 'bekerja sama' dengan Jepang, sikap Syahrir justru berkebalikan. Dengan massa nya, Syahrir lebihmemilih gerakan bawah tanah yang progresif dalam upaya mencapai kemerdekaan Indonesia. Ini tepat sekali dengan prediksi beliau, bahwasanya Jepang tak mungkin memenangkan perperangan.
 
Gerakan rombongan Syahrir ini yang mendesak kemerdekaan Indonesia pada tanggal 15 Agustus, dimana pada masa masa tersebut Jepang diporak porandakan tentara Sekutu. Ini karena Syahrir begitu jeli dan update berita terbaru dari Luar negeri. Sementara Duo Proklamator belum mengetahui berita kekalahan Jepang tidak begitu merespon Syahrir dan memilih menunggu janji kemerdakaan Indonesia dari Jepang pada tanggal 24 September 1945.

Tentu sikap tersebut membuat pemuda pemuda di bawah pimpinan Syahrir menggebu. Jika tetap mengandalkan janji Jepang, maka kemerdekaan Indonesia terkesan sebagai hadiah dari Jepang. Menyelesaikan permasalahan ini, makanya Soekarno Hatta di culik pemuda yang dikenal dengan peristiwa Rengasdengklok. Berdasarkan kesepakatan Soekarno Hatta dan pemuda revolusioner maka disepakati kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus diproklamirkan.
 

Syahrir saat Revolusi Nasional Indonesia

Tan Malaka dan Syahrir, dikenal sebagia 2 tokoh tebebas dari kolaborasi bantuan Jepang untuk kemerdekaan Indonesia. Sikap mereka tetap memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dengan tumpah darah pergerakan perjuangan rakyat Indonesia.

Adalah tertuang dalam buku Perjuangan Kita, karya Sutan Syahrir. Buku ini mengungkap masalah dalam revolusi Indonesia lengkap dengan analisis politik, ekonomi dunia paska Perang Dunia ke-dua.

Tulisan Syahrir mengarah pada penyerangan pada Soekarno. Sangat  bersebarangan dengan Soekarno. Jika Soekarno memprioritaskan persatuan dan kesatuan, Syahrir malah mengungkapkan,
Sikap persatuan hanya akan bersifat taktis, temporer, dan karena itu insidental. Usaha-usaha untuk menyatukan secara paksa, hanya menghasilkan anak banci. Persatuan semacam itu akan terasa sakit, tersesat, dan merusak pergerakan.
Juga dalam tulisannya terdapat bagian,
Nasionalisme yang Soekarno bangun di atas solidaritas hierarkis, feodalistis: sebenarnya adalah fasisme, musuh terbesar kemajuan dunia dan rakyat kita
Perjuangan Syahrir tidak berakhir sia-sia. Pada November 1945, karena ketajaman instink politiknya beliau ditunjuk Soekarno sebagai pembentuk kabinet Parlementer. Pada usia tersebut beliau adalah tokoh termuda di dunia yang menjadi Perdana Menteri termuda disamping rangkap jabatan sebagai Menteri Luar Neger dan Menteri Dalam Negeri. 
 

Syahrir Diculik

Surakarta, 26 Juni 1946. Kelompok oposisi dengan nama Persatuan Perjuangan menyatakan ketidakpuasan dengan hasil perundingan Kabinet Syahrir II dengan Belanda. Kelompok perjuangan menuntut pengakuan kedaulatan Indonesia Penuh, sementara pada hasil perundingan kedaulatan yang diakui hanya Jawa dan Madura.
 
Pimpunan kelompok Persatuan Perjuangan, Mayjend Soedarsono (termasuk Tan Malaka) menculik dan menahan  Syahrir di Paras. Ini membuat pitam Soekarno naik. Polisi Surakarta di tugaskan menangkap pelaku pengasingan terhadap Syahrir. Semua nya bisa di tangkap pada tanggal 1 Juli 1946 dan dipenjarakan di Wirogunan.
 
Pimpunan Kelompok persatuan perjuangan, Soedarsono, membalas penahanan anggota kelompoknya dengan menyerang Wirogunan lalu membebaskan anggotanya. Mendapat tantangan seperti ini tentu Soekarno tak bisa terima.
 
Soekarno memberi perintah pada LetKol Soeharto untuk menangkap Soedarsono. Namun Soeharto menolak karena tak mau menangkap atasannya. Soeharto hanya mau menangkap jika Soedarsono melakukan pemberontakan dan mendapat perintah dari Kepala Staf Militer RI yang dijabat Jenderal Soedirman.
 
Setelah menjadi Presiden, Soeharto mengungkap peristiwa ini dalam otobiografinya, Ucapan, Pikiran dan Tindakan Saya.
 
Namun demi keutuhan negara, Soeharto menjalankan strategi sendiri untuk menangkap Soedarsono agar tidak terkesan beliau yang menangkapnya (karena beliau masih berada sebagai bawahan Soedarsono).
 
Soeharto berpura pura simpati pada aksi Soedarsono. Beliau mengajaka Soedarsono menghadap Soekarno di Istana Presiden Yogyakarta secara rahasia. Namun sebelumnya Soeharto telah menghubungi pengawal presiden dan memberi tahu akan datanya Soedarsono. Kala itu Soedarsono bisa diamankan dan dilucuti senjatanya. Peristiwa ini dikenang sebagai pemberontakan 3 Juli yang gagal.

Syahrir dan Diplomasi

Soekarno akan hangus tanpa Syahrir dan Syahrir bukan apa apa tanpa Soekarno. Begitulah peran masing masing mereka.

Revolusi perjuangan Syahrir dimulai dengan perannya menjadikan kabinet Presidensil menjadi Kabinet Parlementer. Parlemen akan bertanggung jawab pada Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP) yang perannya sebagai lembaga Legislatif. Alhasil Indonesia bisa menganutcara Multi Partai

Sutan Syahrir berinisiatif menunjukkan pada dunia keberhasilan revolusi Indonesia dengan nilai kemanusiaan dan tanpa kekerasan. Namun, pihak belanda menciptakan propaganda yang menilai bangsa Indonesia sebagai bangsa yang keji. Alasan tersebut dijadikan sebagai cara sah memasukkan pasukan NICA ke Indonesia dengan dalih ingin menciptakan ketertiban di Indonesia.

Menghadapi cara tersebut, Sutan Syahrir justru berinisiatif menyelenggarakan pameran seni dan mengundang wartawan dari luar negeri. Sungguh halus bukan cara beliau berdiplomasi walaupun di hadapkan dengan NICA.

Bahkan pernah suatu kisah pada Desember 1946. Syahrir pernah ditodong pistol oleh anggota NICA. Karena macetnya itu pistol, Syahrir dipukul wajahnya hingga lebam. Berita ini mulai menyebar di Radio Republik Indonesia. Namun, dengan tenang Syahrir malah meminta agar berita tersebut ditarik, agar tidak memancing amarah seluruh bangsa Indonesia agar tidak berbuat kekerasan.

Akhir perjuangan Diplomasi beliau adalah tanggal 21 Juli 1947, dimana mampu mengantarkan Indonesia pada forum PBB dalam permasalahan dengan Belanda.

Puncaknya 14 Agustus 1947, Syahrir berpidato di depan sidang Dewan Keamanan PBB. Dengan terwakilinya Indonesia oleh orang seperti Syahrir, maka setiap argumen wakil Belanda dapat dipatahkannya. Sehingga Belanda tidak bisa memberikan alasan yang tepat untuk mempertahankan kedudukannya di Indonesia. Ini diakui oleh wakil Belanda saat itu, Van Kleffens. Bahkan, Kleffens akhirnya harus ditugaskan menjadi Dubes Belanda di Turki karena dianggap gagal menjadi wakil Belanda di PBB. Tambahan akhir. Syahrir dikenang sebagai "The Smiling Diplomat" oleh wartawan yang meliput sidang PBB waktu itu berkat gaya berdiplomasi beliau.

Suka Artikel Ini? Tetap dapatkan Informasi dengan Berlanggana via email

Comments

You must be logged in to post a comment.

Artikel Terkait
About Author

Dulunya ditulis di anakminang.com