Sekarang saya akan membahas tema penderitaan melalui pendekatan hermeneutikal yang sering disebut paraenetic, dan menarik beberapa implikasi misiologis. Paraenesis mengacu pada sebuah genre sastra yang terdiri dari bermacam-macam instruksi moral praktis yang ditujukan pada perubahan perilaku audiensi.13 Saya lebih tertarik pada dasar atau motivasi desakan dan nasihat etikal dalam 1 Petrus khususnya yang memiliki hubungan dengan penderitaan.
E. G. Selwyn14 adalah salah seorang ekseget awal terkenal yang menganggap surat ini sebagai dokumen paraenetic atau etis. Kemudian, W. C. van Unnik15 mengusahakan pendekatan yang sama dan meneliti etika dalam surat ini. Unnik yakin bahwa agathopoien (melakukan yang baik) adalah kata kunci dalam 1 Petrus.Ia meneliti pemahaman Yunani-Romawi, Yahudi dan Kristen tentang kata ini, kemudian menetapkan yang mana dari pemahamannya yang dimaksud dalam 1 Petrus. Ia menyimpulkan bahwa konsepsi agathopoien dalam 1 Petrus berkaitan erat dengan pemahaman Yunani-Romawi, kecuali dasar dan tujuannya. Dalam 1 Petrus dasar untuk melakukan yang baik adalah panggilan Allah bukan kebaikan manusia.Tujuannya bukanlah untuk memperoleh kemuliaan bagi diri sendiri melainkan membuka jalan bagi Injil guna menjangkau orang yang belum percaya.16 Paralel antara tuntutan etis Kristen dan ajaran moral Yunani-Romawi sangat menyolok.Namun, aspek misiologis etika Kristen adalah yang menarik perhatian kita dalam studi Unnik.Aspek misiologis inilah yang membuat tuntutan etika Kristen menjadi unik.
Studi menarik dilakukan oleh D. L. Balch yang mencermati aturan rumah tangga dalam 1 Petrus yang mengatur perilaku para istri, suami, anak-anak dan para hamba (2:13-3:7).17 Balch berpendapat bahwa penganiayaan yang diasumsikan dalam surat ini bersumber dari kritisisme dalam masyarakat, bukan karena tuntutan agar orang Kristen menyembah kaisar. Ia melihat bahwa dalam masyarakat Romawi dan Yunani, adat istiadat agama dan sosial tidak dapat dipisahkan. Dengan demikian, kapan pun Yudaisme atau Kekristenan memproselitkan dan mengubah kebiasaan-kebiasaan para petobat baru, mereka dituduh telah mengkorupsi dan memutarbalikkan adat istiadat sosial dan rumah tangga Romawi.Pertobatan religius ini merupakan sumber fitnahan tentang insubordinasi para hamba dan istri Kristen.18 Dalam konteks ini, Balch menjelaskan aturan rumah tangga di 1 Petrus.Ia mengatakan bahwa penulis 1 Petrus mendesak penerima suratnya untuk berperilaku sesuai dengan yang diuraikan dalam aturan tersebut dengan tujuan agar berbesar hati, hal ini bertentangan dengan fitnahan orang Roma. Orang Kristen diperintahkan untuk memberikan “pembelaan kepada siapa pun yang bertanya,” yang artinya orang Kristen dapat memperlihatkan kepada orang-orang di luar, bahkan kepada pemerintah, bahwa konstitusi atau aturan rumah tangga mereka tetap peduli untuk memelihara konstitusi Romawi (2:14). Menurut Balch, “Orang Kristen mengklaim bahwa adat istiadat mereka tidak akan menumbangkan konstitusi Romawi meskipun hamba-hamba Kristen dan para istri menolak untuk menyembah dewa-dewa Romawi.
J. Ramsey Michaels melihat bahwa motivasi “melakukan yang baik” bersifat eskatologis, yakni, “keselamatan bagi orang kafir dan kemuliaan bagi Allah pada akhir zaman.”20 Dalam 1 Petrus 2:12 penekanannya adalah pada panggilan misionaris gereja. Menurut Michaels, meskipun umat Allah difitnah mereka tetap berharap agar para pemfitnah itu dapat “terbuka matanya” dan dengan demikian “memuliakan Allah pada hari Ia melawat mereka.”21 Tema dari 1 Petrus 3:17 yang menjadi fokus eksegesis Michael adalah penderitaan gereja dan keyakinan bahwa Allah pada akhirnya akan menegakkan orang benar dan menghukum orang jahat. Studi yang dilakukan J. Holdsworth, pada sisi lain, menyelidiki kemungkinan bahwa penderitaan memiliki ciri eskatologis yang biasanya lebih berkaitan dengan tulisan-tulisan apokaliptik.Ia meneliti kata peirasmos (pencobaan), lupeo (berduka cita), dokimazo (memukul), makrothumia (penderitaan panjang) dan purosis (pencobaan yang berapi-api) di dalam kerangka kerja apokaliptik. Yang signifikan dalam penyelidikan Holdsworth adalah ia menghubungkan wahyu dengan theologi misionaris:
The prevailing view is that apocalypses are produced when a clash occurs between the powers of this world and the faithful—to assure them of vindication in a specific political situation. In 1 Peter (and not exclusively there) we see the basic elements of a missionary theology which sees a constant, ongoing and necessary disjunction and struggle between powers antipathetic to the Gospel, and the Gospel itself. The language of what we might call “political apocalyptic” is congenial to this missionary theology and the main purpose of political apocalyptic, that is to produce a theodicy, is also appropriate to the ongoing mission situation in which it provides a kind of theodicy or mission rationale in terms of the universality of God and his having a purpose for his people.
Studi penting yang menghubungkan 1 Petrus dengan PL dilakukan oleh F. W. Danker.23 Teks-teks PL yang relevan (dari LXX hingga Gulungan-gulungan Laut Mati) diselidiki dan dibandingkan dengan perikop penghiburan, 1 Petrus 1:24-2:17. Dari analisis Danker, jelas bahwa penulis 1 Petrus memberikan penekanan kuat pada kenyataan bahwa komunitas yang baru (gereja) merupakan kesinambungan yang otentik dari Israel Perjanjian Lama. Nada penghiburan dalam 1 Petrus terletak pada fakta bahwa seluruh kutipan dari PL (Mzm. 33; 117; Ams. 24; Yes. 40; 43; Hos. 1; 2) meneguhkan pelepasan dari penderitaan dan kesengsaraan. Namun, berkaitan dengan penderitaan, Danker yakin ada perbedaan antara Israel dan umat Allah yang baru. Ia mengatakan, In the case of the OT Israel, sufferings were often viewed as the result of disobedience and Israel’s validity as God’s people was called into question. The sufferings of the new community, on the other hand, come not because of disobedience but in spite of obedience.
Bagian ini dapat dirangkum demikian: ada sedikitnya tiga cara untuk melihat paraenesis atau etis dalam 1 Petrus, yaitu melalui paralel Yunani-Romawinya (Unnik dan Balch), melalui orientasi eskatologisnya (Michaels dan Holdsworth), dan melalui latar belakang PL-nya (Danker). Akan lebih baik jika melihat 1 Petrus melalui ketiga pendekatan ini secara sekaligus. Semua studi yang telah kita pelajari bersifat saling melengkapi satu dengan yang lain dan semuanya menyampaikan makna pesan etis surat 1 Petrus secara lebih sempurna. Dari studi-studi ini kita memiliki sejumlah motivasi untuk tingkah laku Kristen dalam lingkungan yang bermusuhan: berbagi kemuliaan Kristus (Unnik), pembelaan terhadap fitnah (Balch), keyakinan dalam pembenaran akhir Allah (Michaels), alasan rasional untuk misi (Holdsworth), dan ke-khas-an umat Allah yang baru (Danker). Kita dapat melihat bahwa semua motivasi ini memiliki nilai misionaris dan semuanya dimaksudkan guna mendorong para pembaca surat untuk berdiri teguh dan kudus karena Dia yang memanggil mereka adalah kudus (1:15). Di tengah-tengah permusuhan yang mereka alami mereka harus terus-menerus melakukan pekerjaan baik kepada yang lain: “sehingga mereka dapat melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Allah ketika Ia datang untuk menghakimi” (2:12). Dengan kata lain, etika Kristen yang dilakukan bahkan di tengah lingkungan yang memusuhi orang Kristen, dapat menarik orang kepada Kristus.
Beberapa komentar terhadap pandangan Michaels dan Danker perlu dikemukakan sebelum kita mengakhiri bagian ini. Meskipun saya setuju dengan perspektif mendasar mereka, namun menurut saya mereka mengabaikan beberapa aspek pewahyuan yang penting.Michaels cenderung melihat eskatologi sekadar sebagai masa mendatang dengan penekanan yang terlalu banyak pada pembelaan akhir. Memang benar bahwa konteks seluruh 1 Petrus, dan sebenarnya seluruh PB, adalah eskatologis. Namun eschaton itu juga adalah masa sekarang; masa yang akan datang atau kerajaan Allah telah datang pada masa sekarang ini. Motivasi untuk kehidupan Kristen di tengah penderitaan tidak hanya bertumpu pada apa yang Allah akan lakukan pada masa mendatang tetapi juga pada apa yang telah dan sedang Ia lakukan melalui dan di dalam Kristus. Seperti F. Sleeper mengatakan, “Ethics is the task of conforming Christian behavior to the prior activity of God.”25 Danker, pada sisi lain, secara tepat menempatkan latar belakang PL dari 1 Petrus, namun saya rasa kontras antara Israel PL dan Israel baru yang ia sampaikan cukup simplistis. Agak simplistis bila kita katakan bahwa Israel menderita karena ketidaktaatannya saja, sedangkan penderitaan gereja adalah karena ketaatan.Kita dapat menemukan contoh-contoh di PL di mana orang benar menderita. Namun, entah penderitaan itu diakibatkan oleh ketidaktaatan atau karena ketaatan, sering kali hal itu terjadi karena ada kaitan dengan bangsa-bangsa lain. Allah Israel dan gereja adalah juga Allah semua bangsa.Dalam memperlakukan umat-Nya, baik melalui berkat maupun penghakiman-Nya, Allah ingin memperlihatkan kemuliaan-Nya kepada segala bangsa.

You must be logged in to post a comment.