Namun bukan berarti orang tua dan guru menjauhkan anak dari teknologi informasi. Guru hendaknya mampu memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk proses pembelajaran. Tentunya guru tidak boleh gagap teknologi, justru harus berusaha mengembangkan diri mengikuti perekembangan pengetahuandan teknologi. Hal ini tentunya disesuaikan dengan karakteristik peserta didik dan sarana yang tersedia.
Salah satu media digital yang populer di Indonesia saat ini adalah Vlog (Dwi Jayanti:2019). Istilah Vlog berasal dari kata “video blogging” yang sering disingkat menjadi “vlogging” atau “vlog”. Materi yang dikemas dalam vlog berupavideo, audio, dan teks yang dikemas sedemikian rupa sehingga menjadi suatu kombinasi yang menarik. Melalui vlog seseorang akan dapat mengapresiasikan diri atas sesuatu yang dilihat, dirasakan, atau dipikirkan untuk disampaikan kepada orang lain. Pembuatan vlog biasanya menjadi hal yang sangat mudah bagi kalangan remaja atau peserta didik setingkat SMA.
Sementara itu di sisi lain, kegiatan pembelajaran di kelas menjadi hal yang kurang menarik bagi peserta didik. Terlebih jika model pembelajaran yang digunakan cenderung konvensional. Menurut Pramudya (2017), penerapan model pembelajaran yang inovatif sebenarnya tidak berdampaklangsung pada prestsi belajar peserta didik. Namun pemilihan model pembelajaran yang tepat memungkinkan peserta didik untuk termotivasi dan mempunyai minat dalam belajar. Terlebih jika pelajaran yang dimaksud adalah pelajaran Matematika. Keunikan Matematika yang berpijak pada logika dan pemikiran terkadang menyulitkan guru dalam membuat situasi riil untuk menarik minat belajar peserta didik.
Melihat fenomena ini maka guru bisa mencoba menerapkan vlog dalam pembelajaran Matematika. Vlog diharapkan mampu menggugah semangat dan minat belajar siswa terhadap pelajaran Matematika Peminat
Caption
an pada materi limit fungsi trigonometri. Dalam pengembangan vlog bisa digunakan kegiatan presentasi materi yang berasal dari peserta didik. Hal inimengakibatkan pembelajaran menjadi lebih interaktif dan menimbulkan daya tarik.
Dalam hal ini guru memegang peran penting sebagai fasilitator. Guru wajib mengontrol tugas peserta didik mulai awal sampai dengan akhir kegiatan. Model pembelajaran yang bisa digunakan adalah Project Based Learning. Pada kegiatan ini guru mengawali dengan menyampaikan materi secara klasikal. Masalah yang sering muncul adalah bervariasinya soal yang mungkin muncul. Dari sini guru bisa mendata berbagai indikator soal limit fugsi trigonometri. Tujuannya, dengan semakin banyak variasi soal yang dikuasia peserta didik, mereka akan lebih siap dalam menghadapi tes. Hal ni bisa dimanfaatkan dengan membentuk kelompok sesuai dengan variasi soal yang telah ditentukan.
Tahapan dalam kegiatan ini, pertama, guru menyampaikanindikator soal yang akan dibuat. Di sini guru membuka kesempatankepada peserta didik untuk bertanya tentang contoh soal yang sederhana sebagai gambaran menyusun tugas.Kedua, peserta didik membentuk kelompok sebanyak 3-4 orang secara acak. Sekaligus mendapatkan indikator soal yang akan diselesaikan. Ketiga, masing-masing kelompok yang sudah terbentuk melakukan diskusi. Peserta didik perlu memperhatikan kompleksitas soal, langkah penyelesaian yang benar, dan presentasi yang bisa diterima dengan jelas. Hal lain yang tidak boleh ditinggalkan adalah kejelasan gambar dan suara, pemilihan latar, dramatisasi, alokasi waktu, serta peralatan yang dibutuhkan. Keempat, masing-masing kelompok bisa mulai mengerjakan tugasdi luar kelas dan melanjutkan di luar jam pelajaran. Tentunya ada kesepakatan waktu dead line yang harus ditepati.
Selanjutnya jika vlog limit fungsi trigonometri telah selesai sampai tahap pengeditan, diteruskan kegiatan nonton bersama di dalam kelas. Guru bisa meminta masing-masing kelompok untuk menayangkan presentasinya melalui tayangan proyektor. Setelah satu kelompok menampilkan karya vlog, maka kelompok lain memberiakan komentar yang membangun. Sementar itu, guru memberikan penilaian dan tentunya masukan yang bermanfaat. Baik terkait substansi materi, kompleksitas, kualitas gambar dan suara, musik backsoundnya, dan lain sebagainya.
Kepada kelompok yag masih menemui kesalahan, utamanya pada bagian substansi, diberikan kesempatan utuk memperbaiki. Selanjutnya vlog terbaik akan diunggah ke media sosial. Selain lebih memperkenalkan profil sekolah, diharapkan tayangan terebut bisa membantu peserta didik di belahan bumi lain untuk belajar materi yang sama.
Dengan diterapkanya model pembelajaran Problem Based Learning menggunakan vlog pada materi limit fungsi trigonometri diharapkan peserta didik menjadi terpacu dalam belajar. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar, kemampuan literasi, ketrampilan berkomunikasi, dan kemahiran menggunakan teknologi. Pada akhirnya peserta didik mampu menguasai materi limit fungsi trigonimetri secara mandiri.

You must be logged in to post a comment.